Lahir di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mulia Fatwa tumbuh dalam kesederhanaan yang memberinya makna kata mandiri. Ia terbiasa menyertakan rasa tanggung jawab dalam setiap keputusan, termasuk saat menentukan ke mana langkahnya mengarah. Sejak kecil, ia telah berani melapangkan ruang jelajah, menyusuri sungai dan bukit, mengamati berbagai hal termasuk bebatuan yang menjadi bagian dari lanskap kehidupan di tanah kelahirannya.
Mulia sering kali tergugah untuk berkelana lebih jauh, seolah mendengar dunia luas memanggil namanya. Ia memandang bahwa tanah Dompu adalah sebagian potongan dari pelajaran tentang bumi dan kehidupan, sementara potongan lainnya tersebar di seluruh penjuru mata angin. “Dari kecil saya memang senang hal-hal yang berbau petualangan. Lama-lama, rasa ingin tahu itu berkembang menjadi ketertarikan terhadap segala yang berhubungan dengan alam dan struktur bumi,” kenang Mulia.
Usai menamatkan pendidikan menengah di SMAN 1 Dompu pada 2011, ia bertekad melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di luar Pulau Sumbawa. Pilihannya pun jatuh kepada Institut Teknologi Nasional (ITN) Yogyakarta, dengan mengambil jurusan Teknik Pertambangan. Pilihan ini tak lepas dari saran seorang seniornya di sekolah. “Dia menceritakan bagaimana dunia tambang itu menantang dan penuh peluang. Dari situ saya mulai berpikir, sepertinya ini dunia yang cocok untuk saya,” ujarnya.
Mulia mengetahui bahwa bidang pertambangan berpeluang mengantarkannya menjelajah lebih jauh, sebagaimana yang ia mau. Namun, tak hanya soal perjalanan, ia juga merasa bahwa ilmu di bidang ini sesuai dengan minat dan bakatnya. “Saya merasa ilmu yang saya pelajari relevan sekali dengan minat saya. Tidak hanya teori, tetapi banyak praktik lapangan. Itu yang membuat saya semakin jatuh cinta pada bidang ini,” ucap anak keenam dari tujuh bersaudara tersebut.
Kegemaran Mulia terhadap pelajaran eksakta mempermudahnya memasuki berbagai studi aplikatif di perguruan tinggi, terutama geoteknik dalam eksplorasi mineral. Berkat kemampuan akademik yang baik, Mulia pun pernah dipercaya menjadi asisten dosen di laboratorium mekanika batuan, dan terlibat dalam sebuah penelitian disertasi. “Saya diminta membantu pengumpulan data penelitian dosen, sekaligus menjadikannya topik skripsi. Jadi, sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui,” tuturnya.
Tak hanya mematangkan kemampuan akademik, Mulia juga terus mengasah kemampuan nonteknis dan memperluas jejaring sosialnya. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Dompu (IPMD) Yogyakarta pada 2013–2015, sekaligus aktif di himpunan jurusan. “Saya berinteraksi dengan teman-teman dari Papua, Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan sebagainya. Dari situ saya belajar tentang komunikasi lintas budaya,” ujar pria asal Kecamatan Woja itu.
Kegigihan Mulia dalam menempuh pendidikan di ranah rantau berhasil membawanya lulus dari perguruan tinggi pada tahun 2016. Semenjak lulus, ia berkelana mengembangkan pengalaman kerjanya ke beberapa proyek pertambangan di Indonesia, termasuk wilayah Jawa Timur dan Sulawesi Utara. Ia pernah menangani bermacam pekerjaan terkait geoteknik, klasifikasi massa batuan, hingga manajemen coreshed. Pengalaman tersebut semakin menambah kapasitasnya sebagai seorang Geotechnical Engineer yang siap terjun di segala medan serta memberikan kontribusi nyata.
Mulia Fatwa saat menjelaskan sampel inti Deposit Onto kepada Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, beserta jajarannya.
Berkarya di Kampung Halaman
Pada tahun 2021, PT Sumbawa Timur Mining (STM), perusahaan eksplorasi tembaga yang mengelola Proyek Hu’u, membuka kesempatan bagi para profesional untuk turut serta mengembangkan proyek ini. Mulia merasa terpanggil. Ia ingin terlibat mengambil peran, karena ia meyakini bahwa Proyek Hu’u memiliki potensi signifikan untuk mendukung pertumbuhan Kabupaten Dompu. Ia lantas mencari tahu lebih lanjut mengenai peluang ini dan mengikuti seluruh rangkaian proses rekrutmen.
“Saya diwawancarai langsung oleh seorang manajer dari Brasil saat itu, dan ternyata pengalaman saya di bidang geoteknik sangat relevan dengan apa yang mereka butuhkan,” kenangnya. Mulia, dengan keteguhan hati dan kemampuan yang memadai, akhirnya resmi menjadi bagian dari STM sebagai Geotechnical Engineer di tim eksplorasi. “Saya merasa seperti menebus sesuatu yang dulu belum sempat saya lakukan, yakni berkontribusi untuk daerah sendiri,” tambahnya.
Bekerja sebagai Geotechnical Engineer membuat Mulia akrab dengan angka, batuan, dan analisis. “Tugas kami sebenarnya sederhana tetapi krusial, yakni memastikan semua data geoteknik yang dikumpulkan akurat dan bisa dipercaya,” jelasnya. Data-data itu nantinya digunakan untuk menentukan metode penambangan, klasifikasi batuan, hingga sistem keselamatan kerja di lapangan. “Kalau datanya salah sedikit, dampaknya bisa besar. Jadi kami harus melakukan quality control seketat mungkin,” lanjutnya.
Bagi Mulia, bekerja di Proyek Hu’u merupakan tantangan sekaligus pengalaman berharga. Selalu ada ruang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri. “Ibarat menaiki anak tangga, selalu ada pelajaran baru di setiap tahap proyek ini. Saya sangat bersyukur dan berharap bisa terus berkontribusi,” tuturnya. Ia menambahkan, di proyek ini, semua saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama. Ia meyakini bahwa setiap anggota tim di STM memiliki peran penting untuk kemajuan proyek.
Mulia optimistis bahwa Proyek Hu’u akan menyajikan peluang yang lebih besar di masa mendatang. Namun peluang ini perlu disambut sebaik mungkin, terutama melalui peningkatan kemampuan. Menurutnya, status putra daerah adalah sebagian modal yang baik, tetapi itu saja tidaklah cukup.
Putra daerah bukan hanya tentang asal-usul, tetapi tentang kontribusi. Jika kita punya kemampuan yang dibutuhkan, perusahaan pasti akan menerima, tidak peduli dari mana asal kita.
Ia pun mengajak kepada generasi muda Dompu untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan meraih asa. “Saya melihat perubahan yang luar biasa sejak kehadiran STM. Dulu belum banyak kesempatan seperti sekarang. Namun kini, banyak anak muda Dompu yang mulai berpikir luas, ingin kuliah di luar daerah, ingin belajar hal baru,” ungkapnya. Mulia percaya, putra daerah juga dapat bersaing secara profesional, asalkan mau belajar dan bekerja keras.
---
Talenta lokal adalah bagian integral dalam perjalanan Proyek Hu'u. Pelajari kesempatan berkarier bersama kami di sini.